Pendidikan pada periode penjajahan Belanda sebelumnya cuma dipakai untuk penuhi keperluan bangsa Belanda di Indonesia. Pada perubahan seterusnya pendidikan dipakai sebagai alat penjajah untuk cetak tenaga kerja murah atau karyawan rendahan yang paling dibutuhkan untuk beberapa perusahaan Belanda. Mekanisme pendidikan zaman penjajahan Belanda sebagai mekanisme yang sulit karena penjenisannya lumayan banyak sebagai aktualisasi dari diskriminasi mekanisme pengajarannya. Arah dan peraturan politik pendidikan yang dibikin dan diaplikasikan oleh Belanda hanya cuma untuk kebutuhan.Berikut ini ackack.net telah menyiapkan informasi tentang sistem pendidikan Indonesia di masa kolonial. Mari kita simak info selengkapnya.

Pemerintahan penjajahan Belanda. Pendidikan penjajahan bukan hanya berpengaruh negatif untuk warga Indonesia, tapi juga memberi imbas positif karena sesudah penjajahan Belanda di Indonesia usai dan Indonesia capai kemerdekaan beberapa warga di Indonesia terutamanya di Jawa tidak menanggung derita tuna aksara atau buta huruf kembali. Karena warga Indonesia sudah lama mengenali pendidikan atau sekolah. Pendidikan penjajahan melahirkan beberapa tokoh gerakan nasional dan beberapa tokoh pendidikan yang berjiwa nasionalis dan patriotis untuk perjuangkan nasib bangsa Indonesia.

Mekanisme Pendidikan

Di akhir era ke-19 dan awalnya era ke-20, Belanda mulai mengenalkan mekanisme pendidikan resmi pada rakyat Indonesia. Adapun mekanisme pendidikan yang diaplikasikan ialah seperti berikut :

Europeesche Lagere School (ELS) atau sekolah dasar untuk orang Eropa ELS ialah sekolah dasar periode penjajahan Hindia Belanda yang ditujukan untuk turunan Belanda. Sekolah ini pertama kalinya dibangun pada 1817. Awalannya, ELS cuma diperuntukkan untuk masyarakat Belanda, tapi semenjak Politik Benar diaplikasikan, tahun 1903, ELS diberi untuk rakyat Indonesia. ELS mengaplikasikan lama pendidikan sekitaran 7 tahun dengan materi evaluasi memakai bahasa Belanda. Hollandsch-Inlandsche School (HIS) atau sekolah dasar untuk pribumi HIS pertama kalinya dibangun tahun 1914. Sekolah ini hampir sama dengan ELS, mengaplikasikan periode study sepanjang 7 tahun. Sekolah ini ditujukan untuk rakyat Indonesia turunan bangsawan dan turunan figur terpenting. Pengantar bahasa yang dipakai ialah bahasa Belanda.

Saat Belanda berserah pada Jepang di Kalijati, Subang, mekanisme pendidikan di Indonesia juga diambil pindah oleh Jepang.Perbedaannya, Jepang buka sekolah ini untuk semua kelompok masyarakat, tidak cuma bangsawan.

Baca Juga : Pentingnya Program Pelatihan Guru Dalam Pendidikan

Jepang sediakan sekolah rakyat (Kokumin Gakko) sebagai pendidikan dasar, sekolah menengah sebagai pendidikan menengah, dan sekolah kejuruan untuk guru.Bila pada periode penjajahan Belanda, bahasa khusus yang dipakai ialah Bahasa Belanda, karena itu saat periode wargaan Jepang berbeda jadi bahasa Indonesia sebagai bahasa khusus dituruti bahasa Jepang sebagai bahasa ke-2 .

Zaman Pendudukan Belanda

Masuk era ke 16, bangsa Portugis tiba ke Indonesia, rupanya mereka membangun sekolah yang mempunyai tujuan memberi pendidikan baca, catat, dan kalkulasi sekalian memudahkan penebaran agama katolik.Saat Belanda masuk Indonesia, aktivitas sekolah oleh Portugis ini stop, diganti dengan sekolah yang dirintis oleh Belanda, tetap dengan pangkalan keagamaan.

Ambon jadi lokasi yang pertama diputuskan oleh Belanda dan tiap tahunnya, beberapa warga Ambon dikirimkan ke Belanda untuk dididik jadi guru.Saat Indonesia masuk tahun 1627, sudah ada 16 sekolah yang memberi pendidikan ke sekitaran 1300 pelajar.Tidak stop sampai di Ambon, Belanda meluaskan pendidikan di pulau Jawa dengan membangun sekolah di Jakarta di tahun 1617.

Masuk era ke 19, Belanda membangun 20 sekolah untuk warga Indonesia setiap ibu-kota keresidenan karena pada periode diterapkannya Tanam Paksakan tahun itu, Van den Bosch memerlukan banyak tenaga pakar.Tetapi, waktu itu siswa cuma bisa datang dari kelompok bangsawan.

Saat zaman tanam paksakan usai dan masuk periode politik benar, beberapa sekolah Belanda mulai terima siswa dari beragam kelompok yang selanjutnya berkembang jadi namanya Sekolah Rakjat.Di akhir zaman era ke 19 dan awalnya era ke 20, Belanda mengenalkan mekanisme pendidikan resmi yang lebih terancang pada rakyat Indonesia, yakni:

1. ELS (Europeesche Lagere School) – Sekolah dasar untuk orang eropa.

2. HIS (Hollandsch-Inlandsche School) – Sekolah dasar untuk pribumi.

3. MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) – Sekolah menengah.

4. AMS (Algeme(e)ne Middelbare School) – Sekolah atas.

5. HBS (Hogere Burger School) – Pra-Universitas.

Tidak stop sampai disitu, Belanda membangun beberapa perguruan tinggi di Pulau Jawa pada era ke-20.Maksudnya waktu itu ialah Belanda ingin perdalam pendidikan di Indonesia.

Beberapa perguruan tinggi yang dibangun, yakni:

1. School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) – Sekolah kedokteran di Batavia.

2. Nederland-Indische Artsen School (NIAS) – Sekolah kedokteran di Surabaya.

3. Rechts Hoge School – Sekolah hukum di Batavia.

4. De Technische Hoges School (THS) – Sekolah tehnik di Bandung.

Zaman Pendudukan Jepang

Saat Belanda berserah pada Jepang di Kalijati, Subang, mekanisme pendidikan di Indonesia juga diambil pindah oleh Jepang.Perbedaannya, Jepang buka sekolah ini untuk semua kelompok masyarakat, tidak cuma bangsawan.

Jepang sediakan sekolah rakyat (Kokumin Gakko) sebagai pendidikan dasar, sekolah menengah sebagai pendidikan menengah, dan sekolah kejuruan untuk guru.Bila pada periode penjajahan Belanda, bahasa khusus yang dipakai ialah Bahasa Belanda, karena itu saat periode wargaan Jepang berbeda jadi bahasa Indonesia sebagai bahasa khusus dituruti bahasa Jepang sebagai bahasa ke-2 .