Pentingnya Pendidikan Karakter Di Sekolah

Sekolah sebagai instansi pengajaran adalah sumber daya yang perlu. Sekalian menilai arah, sangat penting untuk membuat kurikulum yang terang berisi pengajaran karakter.

Pengajaran karakter ialah pengajaran nilai, pengajaran budi pekerti, pengajaran kepribadian, pengajaran karakter yang mempunyai tujuan meningkatkan kekuatan semua masyarakat sekolah untuk memberi keputusan baik-buruk, keteladanan, memiara apa yang bagus dan merealisasikan kebaikan itu di kehidupan setiap hari dengan segenap hati.

Keutamaan pengajaran pendidikan karakter di sekolah untuk warga Indonesia sebaiknya dimasukkan sejak awal kali pada semua warga Indonesia. Pengajaran karakter yang bagus mempunyai beberapa persyaratan dan tanda penting yang perlu diraih untuk diwujudkannya warga dengan karakter yang bagus. Kementerian Pengajaran Nasional Indonesia sudah merangkum 18 nilai-nilai yang dimasukkan pada diri masyarakat Indonesia, terutamanya pelajar, dalam usaha membuat dan memperkuat karakter bangsa. ada berbafai nilai-nilai dalam pengajaran karakter itu

Pengajaran karakter mempunyai tujuan untuk membuat dan membuat pembaruan diri secara mendalam, buat membuat kekuatan diri pribadi. Nach siapa nih yang semestinya membuat pengajaran karakter?

Menurut Ketentuan Presiden mengenai pengokohan pengajaran karakter (PPK) mewajibkan warga untuk perdalam dan nilai-nilai khusus yaitu, nasionalis, berdikari, spiritual, kredibilitas, dan sama-sama menolong atau bergotong-royong. Nilai-nilai yang dibawa itu diharap bisa diaplikasikan setiap baris terutamanya pada mekanisme pengajaran kita saat ini.

Pengokohan pengajaran karakter ini digiatkan karena perubahan jaman dan tehnologi yang makin cepat. Hingga, menurut ackack.net perlu pengokohan dari pada diri pribadi agar semakin berkembang tanpa distorsi pada kebudayaan asli Indonesia. Pengajaran karakter jaga supaya individu bangsa masih tetap dalam karakter bangsa Indonesia.

Secara konseptual, Pengajaran karakter sendiri banyak memiliki ide. Tetapi, salah satunya yang paling populer ialah ide Pengajaran karakter yang diutarakan oleh Thomas Lickona. Lickona menerangkan jika Pengajaran Karakter memiliki kandungan tiga elemen yakni ketahui kebaikan (knowing the good), menyukai kebaikan (desiring the good) dan lakukan kebaikan (doing the good). Lickona memutuskan tujuh beberapa unsur karakter dasar yang perlu dimasukkan ke peserta didik, mencakup:

  • Ketulusan hati atau kejujuran (honesty)
  • Belas kasih (compassion)
  • Kegagahberanian (courage)
  • Kasih-sayang (kindness)
  • Pengendalian diri (self-control)
  • Kerja-sama (cooperation)
  • Kerja Keras (diligence or hard work)

Contoh dan Implikasi Pengajaran Karakter di Sekolah

Mendidik karakter tiap peserta didik sebagai tanggung-jawab bersama yang mencakup lingkungan keluarga (orang tua), lingkungan sekolah (kepala sekolah, guru, pegawai di sekolah dan warga di sekolah yang lain).

Khusus untuk lingkungan sekolah, karena itu peranan penting dalam membuat karakter ada di kepala sekolah, guru, pembina dan warga sekolah yang lain.

Karena mereka menempatkan diri sebagai : orangtua ke-2 (selainnya keluarga di rumah), fasilitator (memberi keringanan untuk peserta didik), motivator (memberi dorongan untuk peserta didik), menginspirasi dan panutan untuk ditiru tiap peserta didik.

Kekurangan Pengajaran Karakter di Indonesia

Ingat masih jumlahnya kasus korupsi di Indonesia, memperlihatkan jika masih minimnya pengajaran karakter dan kepribadian di Indonesia. Pengajaran di Indonesia sendiri secara umum mengutamakan pengajaran resmi tetapi malah tidak pedulikan pengajaran berwatak.

Walau sebenarnya ke-2 nya benar-benar diperlukan dalam perubahan bangsa Indonesia jadi lebih baik di periode mendatang nanti.

Pengajaran di Indonesia sendiri masih lewat satu pojok kurikulum yang dirangkum atau umum disebutkan siap sajian, yang berbentuk serangkaian paket siap sajian yang memberikan peserta didik untuk pilih kemampuan kepribadian judgementnya.

Beberapa guru condong masih memakai konsep kepribadian umum secara satu arah, tanpa mengikutsertakan keterlibatan tiap peserta didik untuk menanyakan dan ajukan kisah hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.