Pentingnya Peran Modal Sosial dalam Pendidikan Sekolah

Pentingnya Peran Modal Sosial dalam Pendidikan Sekolah

Peran modal sosial pada dasarnya masih belum dinilai sebagai aspek penting dalam proses perbaikan kualitas sekolah. Ada kecenderungan bahwa sekolah masih belum menyadari dan belum menganggap penting bahwa modal sosial benar-benar strategis untuk dikembangkan dalam pola-pola kekerabatan sosial yang terjadi dalam proses belajar baik di dalam keluarga, masyarakat dan di sekolah. Cara dalam penelitian menggunakan metode kepustakaan. Hasil penelitian menjelaskan bahwa modal sosial benar-benar ideal target bila sanggup memaksimalkan dan mempertahankan dari unsur-unsur modal sosial itu sendiri, sehingga peran modal sosial itu akan menonjol bila terus membangun dan memaksimalkan kepercayaan, poin/sopan santun dan jaringan sosial, kerjasama dan partisipasi dalam rangka untuk meningkatkan perbaikan kualitas sekolah.

Komponen Kunci Modal Sosial

Putnam (1993) telah mengidentifikasi komponen-komponen kunci dari modal sosial dan keberadaannya yakni prakondisi untuk pembangunan wilayah dan cara pemerinthan yang ideal target. Dalam pengembangan konsep modal sosial sebagai suatu teori diperlukannya sebuah unsur seperti kepercayaan, sopan santun-sopan santun dan jaringan yang pada dasarnya dapat dipandang sebagai suatu modal (Hauberer, 2011: 42). Pengembangan modal sosial (social capital) dalam cara pendidikan yang sentralistik mematikan kemampuan berinovasi, tentunya tidak sesuai dengan pengembangan masyarakat demokrasi yang terbuka.

Baca Juga : Akses Pendidikan Untuk Orang-Orang Kurang Mampu

Oleh karena itu, desentralisasi pendidikan berarti lebih mendekatkan proses pendidikan kepada rakyat sebagai empunya pendidikan itu sendiri. Rakyat seharusnya berpartisipasi di dalam pembentukan modal sosial hal yang demikian. Keikut sertaan masyarakat di dalam penyelengggaraan pendidikan dalam suatu masyarakat demokratis berarti pula rakyat ikut serta membina lahirnya modal sosial (social capital) dari suatu bangsa (Fathurrohman, 2019).

Konsep modal sosial yakni unsur khususnya yang diharapkan sanggup membentuk untuk meningkatkan kualitas sekolah. Modal sosial yakni hal penting untuk meningkatkan kualitas sekolah karena memuat, poin-poin, sopan santun-sopan santun, kepercayaan, kerjasama, jaringan sosial dan partisipasi. Modal sosial sendiri dapat dikatakan penting bila unsur-unsur yang terdapat di dalam modal sosial sanggup membantu meningkatkan kualitas sekolah. Dalam hal ini, kualitas sekolah dikasih imbas oleh bagaimana sekolah dapat memanfaatkan peran modal sosial yang telah dimiliki oleh sekolah.

Keberhasilan Sekolah Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Kunci keberhasilan suatu negara dikendalikan oleh sejauh mana masyarakat dengan sekolah bekerjasama dalam meningkatkan kualitas sekolah. Peran modal sosial pada dasarnya masih belum dinilai sebagai aspek penting dalam proses perbaikan kualitas sekolah. Ada kecenderungan bahwa sekolah masih belum menyadari dan belum menganggap penting bahwa modal sosial benar-benar strategis untuk dikembangkan dalam pola-pola kekerabatan sosial yang terjadi dalam proses belajar di dalam keluarga atau di sekolah.

Bahkan masyarakat cenderung belum menyadari apa dan bagaimana peran modal sosial itu sendiri yang dikembangkan dalam perbaikan kualitas peserta didik dan sekolah. Fenomena ini benar-benar menarik untuk dikritisi bahwa adanya kecenderungan modal sosial justru pun melemah, bahkan mulai tidak dianggap penting oleh orang tua dan para pengelola pendidikan. Realitas ini menggambarkan bahwa adanya paradoks yang terus berkembang dalam kehidupan masyarakat akan ada peran modal sosial, sebagai modal penting bagi perbaikan kualitas pendidikan dan pihak kekerabatan lembaga dan non lembaga yakni sama (Dwiningrum, 2014: 164).

Dengan demikian modal sosial pada intinya berdiskusi mengenai keadaan susah kekerabatan. Dengan membangun kekerabatan dengan sesama dan menjaganya agar terus berkembang dan berlangsung sepanjang zaman, orang akan sanggup bekerjasama untuk mencapai bermacam hal yang tidak dapat mereka lakukan sendiri, atau yang dapat mereka capai melainkan dengan susah payah (Pelu, 2016). Orang berhubungan melalui serangkain jaringan dan mereka cenderung memiliki kesamaan poin dengan anggota lain dalam jaringan hal yang demikian. Jaringan hal yang demikian akan menjadi sumber daya, dan nantinya dapat dipandang sebagai modal. Selain dapat memberi manfaat seketika, modal-modal ini seringkali bisa dimanfaatkan dalam latar yang lain. Jadi semakin banyak jaringan yang kita bangun (menganl satu sama lain) maka semakin banyak kita memiliki kesamaan metode pandang dengan mereka, sehingga semakin banyak modal sosial kita.

Membangun Klasifikasi Sekolah Dengan Modal Sosial

Dalam pendidikan sekolah modal sosial benar-benar dibutuhkan untuk membangun jejaring antar sesama klasifikasi sosial atau kategori (sekolah lain). Tujuannya agar apa yang telah dibangun dapat berkembang dan menerima amanah dari kalangan serta dapat meningkat kualitas dari sekolah itu sendiri. Dalam hal ini akan menggali lebih dalam mengenai peran modal sosial di pendidikan sekolah. METODE Cara yang dipakai dalam penelitian ini yakni metode kepustakaan (library research), dimana metode ini yakni metode pengumpulan data dengan metode memahami dan mempelajari teori-teori dari bermacam literatur yang berhubungan dengan penelitian. Menurut Zed (2004: 14) ada empat tahap metode kepustakaan adalah menyiapkan peralatan alat yang diperlukan, menyiapkan bibliografi kerja, mengorganisasikan waktu dan membaca serta mencatat bahan penelitian.

Dengan demikian, peniliti melaksanakan pengumpulan data dengan metode mencari dan merkontruksi dari bermacam sumber seperti buku, arsip, majalah, dokumen-dokumen tua, jurnal, dokumentasi, surat-surat isu dan lain-lain (Simanjutak dan Sosrodihardjo, 2014). Dalam penelitian kepustakaan ini peniliti melihat langkah-langkah dalam meneliti kepustakaan, melihat metode penelitian dalam rangka mengumpulkan data, membaca dan mengolah bahan pustaka serta peralatan yang seharusnya dipersiapkan dalam penelitian hal yang demikian, kegunaannya mempermudah peneliti dalam mendapatkan data

Unsur dan Wujud Modal Sosial

Unsur dan Wujud Modal Etika Dalam hal ini unsur dan bentuk modal sosial melihat dari tiga konsep yang terakomodir adalah melalui sopan santun, jaringan, dan kepercayaan. Disatu sisi modal sosial dibuat sebagai sumber daya yang saling terkait satu dengan lainnya agar terjadinya saling menyokong (perubahan sosial).

a. Daya

Dalam konsep sopan santun merupakan memberikan pedoman bagi seseorang untuk berperilaku laku dalam masayarakat. Diwujudkan mengikat sopan santun-sopan santun hal yang demikian sering kali dikenal dengan empat pengertian antara lain metode (usage), tradisi (folkways), tata kelakuan (mores), dan adat istiadat (custom) (Soekanto, 2010: 174). Berkaitan awam sopan santun yakni poin yang bersifat kongkrit. Berdasarkan untuk menjadi panduan bagi setiap individu untuk berbuat sesuai dengan peraturan yang berlaku di masyarakat. Selain hal ini, Putnam (2000) menjelaskan bahwa poin-poin terkandung di dalam suatu jaringan sosial.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa posisi poin-poin menjadi penting sebagai pengikat atau perekat-kohesivitas-mempersatukan dalam menjalin kekerabatan (Fathy, 2019: 6). Menurut Fukuyama (2005: 179) sesungguhnya biasanya sopan santun yang terbentuk dengan spontan cenderung bersifat informal, artinya tidak dituliskan dan diumumkan ackack.net. Selain merentangkan sopan santun-sopan santun sosial, mulai dari sopan santun sosial hierarkis hingga sopan santun spontan, kita juga dapat merentangkan sopan santun lainnya hasil pilihan rasional, serta sopan santun turun menurun dan arasional. Nirfadhilah (2016: 4) menjelaskan bahwa sopan santun yakni poin bersama yang membatasi perilaku individu dalam suatu kategori/masyarakat.

b. Jaringan

Jaringan adalah sekelompok orang yang memiliki sopan santun-sopan santun atau poin-poin informal di samping sopan santun-sopan santun atau poin-poin yang diperlukan untuk transaksi lazim di pasar Fukuyama, 2005: 245). Jaringan (net-work) sosial yakni ikatan antarsimpul (orang atau kategori) yang dihubungkan antarmedia (kekerabatan sosial). Relasi sosial ini diikat oleh kepercayaan, bentuk strategis, dan bentuk moralitas. Kepercayaan itu dipertahankan oleh sopan santun yang mengikat pihak-pihak yang berinteraksi (Agus Salim. 2008: 73). Pada dasarnya jaringan dalam hal sosial yakni salah satu dimensi sosial selain kepercayaan dan sopan santun. Konsep ini dalam kapital sosial lebih memusatkan pada aspek ikatan antar simpul yang bisa berupa orang atau kategori.

Dalam hal ini terdapat adanya sebuah kekerabatan sosial yang diikat oleh adanya kepercayaan dan nantinya akan dipertahankan dan dijaga oleh sopan santun-sopan santun yang ada, sehingga pada konsep jaringan ini terdapat unsur kerja yang melalui kekerabatan sosial. Jaringan sosial sendiri nantinya terbentuk karena adanya rasa saling tahu, saling menginformasikan, saling membantu dalam mengerjakan atau mengatasi keadaan sulit. Pada intinya konsep jaringan dalam capital social merujuk kepada kekerabatan sosial yang memungkinkan kegiatan dapat berjalan dengan efesien dan ideal target (Nirfadhilah, 2016: 3).

c. Kepercayaan

Kepercayaan yakni harapan yang muncul dalam sebuah kategori yang berlaku normal, jujur dan kooperatifberdasarkan sopan santun-sopan santun yang dimiliki bersama demi kepentingan bersama. Harapan kepercayaan orang-orang dapat bekerjasama secara ideal target, sebab ada kesediaan antara mereka untuk menempatkan kepentingan kategori hal yang demikian (Fukuyama, 2002: 25). Pada dasarnya Hasbullah (2006: 63) kepercayaan dalam modal sosial yakni proses untuk mengakui kapasitas seseorang dalam menjalanka sebuah visi dan misi. Kepercayaan yang didapatkan oleh sebuah kategori karena hasil yang telah menonjol secara kongkret.

Sebuah kategori yang memiliki modal sosial berupa kepercayaan karena adanya keterjalinan proses interaksi sosial yang lama serta kegiatan yang sering kali dikerjakan secara bersama. Dalam konsep kepercayaan Lawang (2004: 36) menyimpulkan bahwa :

1) Relasi sosial antar dua orang atau lebih,
2) yang akan terkandung dalam kekerabatan, bila direalisasikan tidak akan merugikan satu sama lain,
3) Interaksi yang memungkinkan relasi dan kemauan agar terbentuk. Karenanya relasi saling percaya (trust) akan bisa membangun kerjasama yang nantinya bisa menekan tarif transaksi antara orang, yang berarti menghemat pemakaian sumber kekuatan.